Analisis Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya Keselamatan
dan Kesehatan Kerja dengan Fungsi Paru Pekerja
Tambang Batu Bara
Analysis of Work Shift, Working Period, and Occupational Health and
Safety Culture with Lung Function of Coal Mine Workers
Qomariyatus Sholihah*, Aprizal Satria Hanafi**, Wanti***, Ahmad Alim Bachri****, Sutarto Hadi*****
*Departemen K3 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia,
**Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia,
***Politeknik Kesehatan Kupang, Indonesia, ****Fakultas Ekonomi, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia,
*****Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia
25
International Labor Organization (ILO) tahun 2013,
2,34 juta orang meninggal setiap tahunnya karena
penyakit akibat kerja. Di Jepang, pada tahun 2011, salah
satu penyakit akibat kerja yang paling besar angkanya
adalah pneumokoniasis, sama halnya dengan di Inggris.5
Angka sakit di Indonesia mencapai 70% dari pekerja
yang terpapar debu tinggi. Sebagian besar penyakit paru
akibat kerja memiliki akibat yang serius, yaitu terjadinya
gangguan fungsi paru dengan gejala utama yaitu sesak
napas.6
Kejadian penyakit akibat kerja tersebut diperkirakan
akibat dari faktor ekstrinsik seperti faktor lingkungan
dan faktor perusahaan serta faktor intrinstik seperti perilaku, sikap, dan kedisiplinan.7 Penerapan implementasi
program K3 akan memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap peningkatan produktivitas kerja.8
Salah satu faktor yang menyebabkan gangguan fungsi
paru adalah sif kerja. Pekerja tambang batu bara memiliki waktu sif siang (pagi, siang, sore) dan sif malam.
Permasalahan lebih banyak terjadi pada pekerja sif
malam karena irama faal tubuh manusia yang tidak dapat menyesuaikan kerja malam dan tidur.9 Kerja sif
malam merupakan sistem yang berlawanan dengan irama
sirkadian. Kelainan pola tidur sebagai salah satu bentuk
gangguan irama sirkadian yang dialami pekerja sif memiliki konsekuensi patologis berupa peningkatan kadar
sitokin proinflamasi dalam darah karena penurunan sistem kekebalan dan antioksidan dalam tubuh.10
Penyakit pernapasan tidak hanya disebabkan oleh
debu saja, melainkan dari karakteristik individu seperti
masa kerja yang terkait dengan tingkat pajanan. Masa
kerja penting diketahui untuk melihat lamanya seseorang telah terpajan dengan debu lingkungan. Selain itu,
kebiasaan
merokok juga merupakan salah satu kebiasaan buruk yang dapat mengganggu
kesehatan pekerja. Seorang perokok memiliki risiko kematian 20 kali
lebih besar akibat kanker paru dibandingkan yang
bukan perokok.11 Seseorang yang semakin lama bekerja pada tempat yang mengandung debu, akan semakin
tinggi risiko untuk terkena gangguan kesehatan, terutama gangguan saluran pernapasan.12 Penelitian yang dilakukan pada pekerja tambang batu bara di Kalimantan
Timur tahun 2012 diperoleh sebanyak 45,1% yang
mengalami gangguan fungsi paru obstruktif dengan
masa kerja > 5 tahun dan 16,7% yang masa kerjanya <
5 tahun.13 Menurut Kaligis,8 implementasi program K3
akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
peningkatan produktivitas kerja. Impelementasi K3
mampu mengurangi angka kecelakaan kerja sehingga
pekerja dapat bekerja dengan lebih baik dan mengurangi angka absensi kerja akibat kecelakaan kerja atau
penyakit akibat kerja.
Berdasarkan data yang diperoleh dari audit internal
PT X tahun 2014, kadar debu di bagian produksi mencapai 4,8 mg/m3. Sedangkan menurut National Institute
of Occupational Safety and Health (NIOSH) tahun 2011,
nilai ambang batas untuk debu batu bara adalah 2
mg/m3. Debu tersebut akan meningkatkan risiko gangguan paru pada pekerja tambang. Semakin lama seorang
pekerja terpajan, maka risiko gangguan paru akan semakin meningkat jika tidak disertai dengan penerapan
K3 yang baik.14
Berdasarkan hasil data klinik di PT X didapatkan
penyakit pekerja adalah sesak napas, common cold, dan
flu. Penelitian tentang kesehatan pekerja di tambang batu
bara
PT X perlu dilakukan agar dapat diketahui penyebab keluhan pekerja dan
diharapkan dapat meminimalkan penyakit akibat kerja dan tujuan akhirnya
dapat
meningkatkan produktivitas pekerja. Tujuan umum
penelitian
ini adalah untuk mengetahui hubungan sif kerja, masa kerja, dan budaya
K3 dengan fungsi paru pekerja tambang batu bara di PT X.
Metode
Desain studi yang digunakan pada penelitian ini
adalah
kasus kontrol untuk mengamati variabel dependen, yaitu gangguan fungsi
paru dan variabel independen, yaitu sif kerja, masa kerja, dan budaya
K3. Pada
penelitian ini digunakan perbandingan kasus dan kontrol
adalah 1 : 1 sehingga jumlah kontrol sebanyak 178 orang.
Maka, jumlah sampel yang dibutuhkan pada penelitian
ini adalah 356 orang. Sampel diambil menggunakan
teknik simple random sampling. Sampel kelompok kasus
adalah seluruh pekerja tambang batu bara PT X bagian
produksi yang berjumlah 178 orang, sedangkan sampel
kelompok kontrol adalah karyawan bagian manajemen
kantor berjumlah 178 orang.
Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar isian
(data identitas dan kuesioner) dengan disertai persetujuan menjadi subjek penelitian, alat uji fungsi paru
(Spirometri) merek BLT-08 Spiro Pro Meter® dan
mouthpiece, timbangan berat badan untuk mengukur berat badan, dan meteran untuk mengukur tinggi badan.
Pengukuran menggunakan instrumen didampingi oleh
petugas medis dari pihak perusahaan. Kuesioner
dibagikan kepada responden untuk mengukur budaya K3
responden, kemudian fungsi paru responden diukur dengan menggunakan spirometri dan mouthpiece. Hasil
dikatakan normal jika besar volume udara yang dikeluarkan dalam satu detik pertama ≥ 80% dari kapasitas
fungsi paru dan dikatakan tidak normal jika < 80% dari
kapasitas fungsi paru. Sedangkan lembar isian digunakan
untuk
mengetahui sif kerja dan masa kerja. Data dianalisis menggunakan uji
kai kuadrat dengan alpha 95%, kemudian dilanjutkan dengan analisis
regresi logistik untuk
analisis multivariat dengan variabel sif kerja, masa kerja,
dan budaya K3. Penelitian ini dilakukan pada bulanOktober
– November 2014 di PT X.Sholihah, Hanafi, Wanti, Bachri, Hadi, Analisis
Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya K3 dengan Fungsi ParuKesmas: Jurnal
Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10, No. 1, Agustus 201526fungsi paru
pekerja tambang batu bara sif siang ada yangmengalami penurunan
kapasitas fungsi paru di bawah nilai normal, yaitu FEV1 80%. Hal ini
sesuai denganpenelitian Hendryx and Melissa,15 membuktikan bahwarisiko
tinggi pekerja tambang batu bara terhadap terjadinya inflamasi yang
menyebabkan risiko gangguanfungsi paru. Dibuktikan oleh penelitian Sari
Mumuya,16pada tahun 2006 terhadap 299 laki-laki pekerja tambangbatu bara
sif siang di Tanzania dengan nilai p = 0,04 (nilai p < 0,05)
menunjukkan bahwa risiko bekerja di daerah pertambangan batu bara dapat
menurunkan nilaiFEV1% 80.Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat nilai
kapasitas fungsi paru pekerja tambang batu bara sif malammengalami
penurunan dibandingkan sif siang. Penurunankapasitas fungsi paru lebih
banyak ditemukan padapekerja tambang batu bara sif malam. Sif malam
menunjukkan penurunan FEV1%, Vmax50, Vmax25 lebih besar dibandingkan
dengan sif pagi dan sif siang. MenurutZheng,10 sif malam merupakan
sistem yang berlawanandengan ritme sirkadian. Kelainan pola tidur
sebagai salahsatu bentuk gangguan ritme sirkadian yang dialamipekerja
sif memiliki konsekuensi patologis berupa peningkatan kadar sitokin
proinflamasi dalam darah karena penurunan sistem kekebalan dan
antioksidan dalamtubuh. Hal ini didukung oleh penelitian
Sholihah,17HasilHasil distribusi sif kerja, masa kerja, budaya K3
danfungsi paru pada pekerja tambang di PT X sinergi padaTabel 1. Tabel 1
memaparkan hasil berdasarkan analisisunivariat untuk mendapatkan
distribusi fekuensi darimasing-masing variabel independen (sif kerja,
masa kerja, dan budaya K3) dan variabel dependen (gangguanfungsi paru).
Hasil penelitian menunjukkan kasus fungsiparu tidak normal sebesar 57,9%
meliputi obstruktif, restruktif maupun keduanya.Tabel 2 menunjukkan
hubungan antarvariabel independen dengan variabel dependen. Seluruh
variabelmeliputi sif dan masa kerja, serta budaya 3 memilikihubungan
yang bermakna secara statistik dengan nilai p< 0,05. Variabel bebas
yang berhubungan dengan variabel terikat (variabel sif kerja, masa
kerja, dan budayaK3) bersama dimasukkan dalam perhitungan uji
regresilogistik metode Enter. Sif kerja merupakan variabel bebas yang
berpengaruh paling dominan dengan fungsiparu (Tabel 3).PembahasanHasil
penelitian dengan menggunakan uji kai kuadratmenunjukkan terdapat
hubungan antara sif kerja danfungsi paru pekerja tambang batu bara
dikarenakan nilaip < 0,05. Dalam penelitian ini, terdapat bahwa
kapasitasTabel 1. Distribusi Frekuensi Kasus dan Kontrol Berdasarkan
Variabel IndependenVariabel Kategori Kasus Kontrol TotalSif kerja Siang
98 (55,1%) 141 (79,2%) 239 (67,1%)Malam 80 (44,9%) 37 (20,8%) 117
(32,9%)Masa kerja <5 Tahun 118 (66,3%) 43 (24,2%) 161 (45,2%)≥5 Tahun
60 (33,7%) 135 (75,8%) 195 (54,8%)Budaya K3 Positif 108 (60,1%) 172
(96,6%) 280 (78,7%)Negatif 70 (39,9%) 6 (3,4%) 76 (21,3%)Fungsi paru
Normal 75 (42,1%) 163 (91,6%) 238 (66,9%)Tidak normal (obstruktif, 103
(57,9%) 15 (8,4%) 118 (33,1%)restruktif, campuran)Tabel 2. Analisis
Bivariat Variabel Independen dengan Fungsi ParuVariabel Kategori Kasus
Kontrol Total OR 95% CI Nilai pSif kerja Siang 98 (55,1%) 141 (79,2%)
239 (67,1%) 6,326 0,044Malam 80 (44,9%) 37 (20,8%) 117 (32,9%)
1,829-21,001Masa kerja < 5 Tahun 118 (66,3%) 43 (24,2%) 161 (45,2%)
4,82 0,028≥ 5 Tahun 60 (33,7%) 135 (75,8%) 195 (54,8%)
1,743-13,239Budaya K3 Positif 108 (60,1%) 172 (96,6%) 280 (78,7%) 5,532
0,013Negatif 70 (39,9%) 6 (3,4%) 76 (21,3%)Tabel 3. Hasil Uji
Multivariat Fungsi Paru95% CI for EXP (B)Variabel Bebas B Wald Sig Exp
(B)Lower UpperSif kerja 1,360 7,074 0,01 3,934 1,453 2,864Masa kerja
0,893 2,899 0,076 2,454 0,786 7,567Budaya K3 1,006 6,655 0,081 2,675
0,965 6,65427membuktikan bahwa dinding alveoli tikus wistar
yangdikondisikan sif malam mengalami penebalan lebih signifikan
dibandingkan sif siang. Penurunan kapasitasfungsi paru dapat disebabkan
kondisi fisik individupekerja yang meliputi mekanisme pertahanan
paru,anatomi dan fisiologi saluran pernapasan serta
faktorimunologis.18 Dibuktikan oleh penelitian Siyoum,19 pada tahun 2014
di Etiopia dengan nilai p = 0,001 yangmenjelaskan bahwa gejala gangguan
fungsi paru terjadilebih banyak pada pekerja sif malam dibandingkan
dengan sif lainnya.Hasil penelitian dengan menggunakan uji kai
kuadratmenunjukkan bahwa terdapat hubungan antara masakerja dan fungsi
paru pekerja tambang batu bara, dikarenakan nilai p > 0,05.
Penelitian ini tidak sejalan denganpenelitian Puspita dkk,20 mengenai
pengaruh paparandebu batu bara terhadap gangguan faal paru. Hasil
analisis faktor risikonya menunjukkan bahwa masa kerja tidakmemiliki
hubungan terhadap kejadian gangguan faalparu. Dalam penelitian
Baharuddin dkk,21 masa kerja 2- 7 tahun dan 8 - 13 tahun juga tidak
memiliki hubungandengan gangguan fungsi paru, baru pada masa kerja 14
-20 tahun mulai terdapat hubungan dengan gangguanfungsi paru. Beberapa
penelitian melaporkan bahwa dinegara yang telah memiliki nilai ambang
batas debu,pneumokoniosis pada penambang batu bara biasanyaterjadi pada
individu yang telah bekerja selama > 10tahun atau paling sedikit 5 -
10 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat bukti yang signifikan
antara masakerja dengan fungsi paru. Jika masa kerja
berhubungan,diperlukan waktu paparan yang cukup lama untuk
dapatmenimbulkan kelainan pada faal paru. Jumlah total suatuzat yang
diabsorsi di paru-paru bukan hanya tergantungpada lamanya seseorang
terpapar dengan debu saja, namun perlu diperhitungkan sifat-sifat kimia
dan fisik daridebu itu sendiri yang terhirup oleh pekerja.22Penurunan
fungsi paru tidak hanya disebabkan olehfaktor pekerjaan maupun
lingkungan kerja, tetapi jugaterdapat sejumlah faktor nonpekerjaan yang
dapat menjadi faktor yang memengaruhi maupun menjadi variabelpengganggu.
Hal-hal yang dapat memengaruhi sepertiusia, jenis kelamin, kelompok
etnis, tinggi badan, kebiasaan merokok, suhu lingkungan, penggunaan alat
pelindung diri, metode pengolahan serta jumlah jam kerja/jamgiliran
kerja (sif kerja).23Faktor lain dalam penelitian ini yang
menyebabkanmasa kerja menjadi tidak berhubungan dengan fungsiparu adalah
kadar debu. Pada penelitian ini, kadar debubatu bara merupakan faktor
pengganggu yang tidak dapat dikendalikan karena setiap hari semua
pekerja tambang batu bara di bagian produksi berkontak langsungdengan
debu batu bara.Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubunganantara
budaya K3 dan fungsi paru pekerja tambang batubara dikarenakan nilai p
> 0,05. Penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Dumadkk,1 yang mendesain modul menuju selamat sehat
sebagai metode dan media penyuluhan K3 yang efektifmeningkatkan
pengetahuan, sikap dan perilaku K3 (budaya K3) serta tenaga kerja
inovatif dalam pengendaliangangguan kesehatan. Hasil penelitian
menyatakan penyuluhan K3 dalam penerapannya selama satu tahun
efektifmeningkatkan pengetahuan dan sikap budaya K3, namun belum efektif
meningkatkan kesehatan pekerja.Berdasarkan hasil observasi di PT X,
Rantau, KalimantanSelatan, nilai ambang batas debu tidak
diketahui.Manajemen perusahaan tambang batu bara hanya menyatakan secara
lisan bahwa nilai ambang batas debu dalamkeadaan normal.24 Kadar debu
lebih dari 350 mg/m3udara/hari (OR = 2,8; 95% CI = 1,8 - 9,9)
merupakansalah satu faktor intrinsik yang terbukti berhubungandengan
penurunan kapasitas paru.6Berdasarkan kepustakaan, debu yang berukuran
antara 5 - 10 mikron bila terhisap akan tertahan dan tertimbun pada
saluran napas bagian atas, yang berukuranantara 3 - 5 mikron tertahan
atau tertimbun pada salurannapas tengah. Partikel debu dengan ukuran 1 -
3 mikrondisebut debu respirabel merupakan yang paling berbahaya karena
tertahan atau tertimbun mulai dari bronkiolus terminalis sampai
alveoli.25KesimpulanHasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan
sifkerja, masa kerja, dan budaya K3 dengan fungsi parupekerja tambang
batu bara PT X di Kalimantan Selatan.Daftar Pustaka1. Duma K, Husodo AH,
Soebijanto, Maurits LS. Modul menuju selamatsehat: inovasi penyuluhan
kesehatan dan kesehatan kerja dalampengendalian kelelahan kerja. Jurnal
Manajemen Pelayanan Kesehatan.2011; 14 (4): 213-23.2. Rikmiarif DE,
Pawenang ET, Cahyati WH. Hubungan pemakaian alatpelindung pernafasan
dengan tingkat kapasistas vital paru. UnnesJournal of Public Health.
2012; 1 (1): 12-7.3. Hermanus MA. Occupational health and safety in
mining–status, Newdevelopments, and concerns. The Journal of the
Southern AfricanInstitute of Mining and Metalurgy. 2007; 107: 531-8.4.
Susanto AD. Pnemokoniosis: artikel pengembangan pendidikan keprofesian
berkelanjutan. Journal of Indonesian Medical Association. 2011;61:
503-10.5. ILO [homepage in internet]. The prevention of occupational
diseases.World day for safety and health at work. 2013 [cited 2014 Dec
5].Available from:
http://www.ilo.org/safework/events/meetings/WCMS_204594/lang—en/index.htm6.
Meita AC. Hubungan paparan debu dengan kapasitas vital paru padapekerja
penyapu Pasar Johar Kota Semarang. Jurnal KesehatanMasyarakat. 2012; 1
(2): 654-62.7. Susilowati IH, Syaaf RZ, Satrya C, Hendra, Baiduri.
Pekerjaan, nonSholihah, Hanafi, Wanti, Bachri, Hadi, Analisis Sif Kerja,
Masa Kerja, dan Budaya K3 dengan Fungsi ParuKesmas: Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional Vol. 10, No. 1, Agustus 201528Occupational Medicine.
2007; 36 (2): 299-306.17. Sholihah Q. Melatonin lowers levels of SOD
and number of inflammatory cells BAL wistar strain mice wearing mask
PPE, sub acute exposedby coal dust day and night. Journal Applied
Environment BiologicalScience. 2012; 2 (12): 652-7.18. Raju AE, Hansi K,
Sayaad R. A Study on pulmonary function tests incoal mine workers in
Khammam District India. International JournalPhysioter Respiratory
Research. 2014; 2 (3): 502-6.19. Siyoum K, Alemu K, Kifle M. Respiratory
symptoms and associated factors among cement workers and civil servants
in North Shoa, OromiaRegional State, North West Ethiopia: Comarative
Cross Sectional Study.Journal Health Affairs. 2014; 2: 74-8.20. Puspita
CG. Paparan debu batubara terhadap gangguan faal paru padapekerja
kontrak bagian coal handling PT. PJB Unit Pembangkit Paiton[skripsi].
Jember: Bagian Kesehatan Lingkungan dan KesehatanKeselamatan Kerja
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember;2011.21. Baharudin S,
Roestam AW, Yunus F, Ikhsan M, Kekalih A. Analisis hasilspirometri
karyawan PT. X yang terpapar debu di area penambangandan pemrosesan
nikel. Jakarta: Departemen Pilmonologi dan Ilmu kedokteran Respirasi
Fakulta Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.22. Komendong DJWM, Ratu
JAM, Kawatu PAT. Hubungan antara lama paparan dengan kapasitas paru
tenaga kerja industri mebel di CV. SinarMandiri Kota Bitung. Jurnal
Kesmas Universitas Sam Ratulangi. 2012;1 (1): 5-10.23. Kurniawidjaja LM.
Program perlindungan kesehatan respirasi di tempatkerja manajemen
risiko penyakit paru akibat kerja. Jurnal RespirologiIndonesia. 2010; 30
(4); 217-29.24. PT. Hasnur Riung Sinerga. Profil dan gambaran men power
di PT.Hasnur Riung Sinergi Site BRE. Rantau, Kalimantan Selatan: PT
HasnurRiung Sinergi; 2014.25. Sholihah Q, Ratna S, Laily K. Pajanan debu
batubara dan gangguan pernafasan pada pekerja lapangan tambang
batubara. Jurnal KesehatanLingkungan. 2008; 4 (2): 291-311.pekerjaan,
dan psikologi sebagai penyebab kelelahan operator alat Beratdi industri
pertambangan batubara. Kesmas: Jurnal KesehatanMasyarakat Nasional.
2013; 8 (2): 91-6.8. Kaligis RSV, Sompie BF, Tjakra J, Walangitan DRO.
Pengaruh implementasi program keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
terhadap produktivitas kerja. Jurnal Sipil Statik. 2013; 1 (3) :
219-25.9. Siyoum K, Alemu K, Kifle M. Respiratory symptoms and
associated factors among cement workers and civil servants In North
Shoa, Oromiaregional state, North West Ethiopia: comarative cross
sectional study.Journal Health Affairs. 2014; 2 (4): 74 - 8.10. Zheng H,
Patel M, Hryniewicz K, Katz SD. Association of extended shiftwork,
vascular fuction and inflammatory markers in internal medicineresident: a
randomized control trial. JAMA. 2006; 296 (9): 1049-54.11. Kandung RPB.
Hubungan antara karakteristik pekerja dan pemakaianalat pelindung
pernapasan (masker) dengan kapasitas fungsi paru padapekerja wanita
bagian pengempelasan di Industri Mebel “X” Wonogiri.Jurnal Kesehatan
Masyarakat. 2013; 2 (1).12. Putra DP, Rahmatullah P, Novitasari A.
Hubungan usia, lama kerja, dankebiasaan merokok dengan fungsi paru pada
juru parkir di JalanPandanaran Semarang. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah.
2012; 1 (3):7-12.13. Cahyana A. Faktor yang berhubungan dengan kejadian
gangguan fungsiparu pada pekerja tambang batubara PT. Indominco
MandiriKalimantan Timur Tahun 2012 [research article]. Makassar:
BagianKesehatan dan Keselamatan Kerja FKM Universitas Hasanuddin,
2012.14. National Institute for Occupational Safety and Health . Coal
mine dustexposures and associated health outcomes. NIOSH [online]; 2011
[cited 2015 Jan 4]. Available from:
www.cdc.gov/niosh/docs/2011-172/pdfs/2011-172.pdf.15. Hendryx M, Melissa
M. Relations between health indicators and residential proximity to
coal mining in West Virginia. American Journal ofPublic Health. 2008; 98
(4): 668-71.16. Mumuya SHD, Bratveit M, Mashalla YJ, Moen BE. Airflow
limitationamong workers in a labour-intensive coal mine in Tanzania.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar