Rabu, 20 September 2017



SWAFOTO BERSAMA 3 PANITIA BTOPH







KRONOLOGI :
pada hari Selasa tanggal 19 September 2017 , kita melaksanakan Sanksi yang diberikan oleh komdis yaitu Swafoto bersama 3 panitia BTOPH. Pertama kita membuat janji terlebih dahulu bersama mas Gianaj , kemudian setelah sholat kita bertemu sama mas Gianaj untuk melaksanakan sesi foto. Setelah foto bersama mas Gianaj , Kita melihat mas Kinaryo di depan lobby kesehatan masyarakat , lalu kita mendatangi mas Kinaryo untuk meminta izin foto bersama. Selanjutnya adalah foto bersama mbak Lady Sebelum foto kita membuat janji terlebih dahulu bersama mbak Lady, setelah mbak Lady selesai kuliah, kita menemui mbak Lady di lobby dan melaksanakan sesi foto .

Senin, 18 September 2017

BIOGRAFI TOKOH KESEHATAN


Remo Gaspari lahir di Gissi, di Abruzzo, sebuah daerah yang menjadi tempat pemilihan utamanya selama karir politiknya. Ia lulus kuliah di Universitas Bologna.Gaspari adalah anggota parlemen Italia tanpa interupsi dari tahun 1968 sampai 1992. Dia adalah anggota  Dorotei Wings dari Demokrasi Kristen Italia (Italia: Democrazia Cristiana, hanya DC) bersama Vincenzo Scotti, Arnaldo Forlani dan Antonio Gava. Pada tahun 1960, dia adalah undesecretary to Mail and Telecommunications dikabinet Tambroni. Setelah serangkaian posisi sebagai wakil sekretaris di berbagai menteri, dia menjadi menteri untuk pertama kalinya di pemerintahan Rumor kedua (1968), dan kemudian, lagi di bawah Rumor dan perdana menteri perdana Kolombo dan Andreotti, dia adalah Menteri Reformasi Administrasi Negara .
Dalam Kabinet Andreotti II dia adalah Menteri Kesehatan. Gaspari juga merupakan wakil sekretaris nasional DC pada 1976-1980. Pada tahun 1980 ia menjadi Menteri Hubungan dengan Parlemen di pemerintahan Cossiga kedua, Menteri Fungsi Publik di dua kabinet Bettino Craxi, dan, dari tahun 1987, Menteri Pertahanan di pemerintahan Amintore Fanfani yang berumur pendek. Setelah menjabat sebagai Menteri Mezzogiorno, dia mengakhiri karir pemerintahannya sebagai Menteri Fungsi Publik di kabinet keenam dan ketujuh yang dipimpin oleh Giulio Andreotti pada awal 1990an.
Sebuah lagu oleh Elio e le Storie Tese menyebutkan sebuah episode di mana Gaspari menggunakan helikopter negara untuk tiba tepat waktu untuk menyaksikan pertandingan sepak bola AS Roma.Gaspari meninggal di Gissi dari infark pada Juli 2011.

Minggu, 17 September 2017

MIRACLE
KESMAS adalah sebuah jurusan dengan lulusan di beri gelar S.KM. contoh yang di lakukan oleh seoarang kesmas adalah Perbaikan sanitasi lingkungan Pemberantasan penyakit – penyakit menular Pendidikan untuk kebersihan perorangan, Pengorganisasian layanan – layanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan perawatan Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya.
Menjadi Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) yang survive, kita membutuhkan 3 kompetensi. Kompetensi-kompetensi tersebut sangat menunjang kita di pasar kerja nantinya. 3 kompetensi tersebut yaitu :
1.      Computer literacy (mengerti computer, maksudnya adalah pengetahuan tentang komputer yang mencakup pengertian tentang istilah-istilah komputer, pemahaman tentang keunggulan dan kelemahan komputer, kemampuan menggunakan komputer dll.)
2.      Critical system thinking (pemikiran sistem kritis, dapat digunakan di dunia usaha oleh manajemen yang visioner, manajemen yang bisa membaca aspirasi mengenai apa yang diperlukan perusahaan di masa datang, dan manajemen yang mempunyai suatu perasaan bahwa pemikiran sistem adalah pemikiran yang sesuai dengan situasi masa kini, atau bahkan bisa dijadikan sebagai cara-cara manajemen modern di masa dating)
3.      Ability to serve (kemampuan untuk melayani, sebagai lulusan kesehatan masyarakat kita diharapkan dapat melayani masyarakat dengan baik melalui prevent promote, protect)
For first time job seeker :
-          Positive energy and respect people
-          Output oriented
-          Orientasi adalah awal atau pengenalan dari sebuah cerita atau peristiwa sejarah. Biasanya berisi perkenalan tentang tokoh-tokoh dalam cerita yang akan diceritakan. Sementara output adalah hasil dari sebuah proses. Proses yang dimaksud baik berupa data atau bentuk informasi yang telah diolah
kesehatan masyarakat  pada hakikatnya merupakan ilmu yang terdiri dari berbagai macam disiplin ilmu seperti biologi, fisika, kimia, kedokteran, lingkungan, sosiologi, psikologi, antropologi, ekonomi, administrasi, pendidikan dan lain – lain. Namun secara garis besar, disiplin ilmu yang menopang berdirinya kesehatan masyarakat sebagai ilmu atau yang lebih dikenal sebagai  8 pilar kesehatan masyarakat antara lain :

1.      Administrasi Kesehatan Masyarakat.
2.      Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
3.      Biostatistika/Statistik Kesehatan.
4.      Kesehatan Lingkungan.
5.      Kesehatan Kerja.
6.      Epidemiologi.
7.      Kesehatan reproduksi.

Tanpa disadari bahwa tugas dari Profesi kesehatan masyarakat sangat luas.  Peningkatan kesehatan (promotif) dan juga pencegahan penyakit (preventif) merupakan salah satu keahlian Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) dimana kegiatan riil ini untuk mencegah terjadinya berbagai masalah kesehatan. Seorang sarjana kesehatan masyarakat harus bisa melayani dan melakukan upaya pencegahan untuk masyarakat karena kita merupakan agen preventif.
 Ilmu kesehatan masyarakat merupakan ilmu yang multi disipliner, karena memang pada dasarnya Masalah Kesehatan Masyarakat bersifat multikausal, maka pemecahanya harus secara multidisiplin. Oleh karena itu, kesehatan masyarakat sebagai seni atau prakteknya mempunyai bentangan yang luas. Semua kegiatan baik langsung maupun tidak untuk mencegah penyakit (preventif), meningkatkan kesehatan (promotif), terapi (terapi fisik, mental, dan sosial) atau kuratif, maupun pemulihan (rehabilitatif) kesehatan (fisik, mental, sosial) adalah upaya kesehatan masyarakat.
Agar menghasilkan lulusan kesehatan masyarakat yang unggul, diperlukan MIRACLE :
-          Manager (pengelola)
-          Inovator (penemu)
-          Researcher (peneliti)
-          Aprenticer (magang)
-          Communitarian (komunikasi masyarakat)
-          Leader (pemimpin)
-          Education (pendidik masyarakat)
Sementara prospek kerja bagi SKM sangatlah luas, diantaranya yaitu:
1.      Pengelolaan program kesehatan di dinas kesehatan
2.      BPJS kesehatan dan BPJS ketenaga kerjaan
3.      Administrator kebijakan di rumah sakit
4.      Analisis kebijakan kesehatan
5.      Kepala puskesmas
6.      Ahli kesehatan keselamatan kerja
7.      Ahli kesehatan linhkungan industry
8.      Epidemiologi kesehatan
9.      Sanitarian
10.  Penyuluh kesehatan
Terimakasih.




PENGABDIAN MASYARAKAT
            Menurut definisinya Pemberdayaan Masyarakat dapat diartikan meningkatkan kemampuan masyarakat agar dapat menjalankan fungsi dan perannya dengan baik, bisa dikatakan pula bahwa pemberdayaan masyarakat memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, baik kapasitas secara intelektual, emosional, maupun spiritual. Pemberdayaan dapat juga diartikan sebagai upaya untuk memberikan daya atau kekuatan kepada masyarakat. Oleh karena itu, memberdayakan masyarakat merupakan upaya untuk meningkatkan harkat dan mertabat lapisan masyarakat dan juga  mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain memberdayakan masyarakat adalah meningkatkan kemampuan dan meningkatkan kemandirian masyarakat.
Tahapan pemberdayaan masyarakat yang pertama yaitu dengan Penyadaran kepada masyarakat dengan memberikan motivasi memalui pendekaan kepada masyarakat agar masyarakat tahu apa yang harjus dilakukan, Pengertian penyuluhan kesehatan dapat di samakan dengan pendidikan kesehatan masyarakat (Public Health Education), yaitu suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya Penyampaian tersebut seseorang dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Akhirnya pengetahuan tersebut diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilakunya. Dengan kata lain, dengan adanya pendidikan tersebut dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran.

Suatu masyarakat dikatakan mandiri dalam bidang kesehatan apabila :
1.      Mereka mampu mengenali masalah  kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan terutama di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Pengetahuan tersebut meliputi pengetahuan tentang penyakit, gizi dan makanan, perumahan dan sanitasi, serta bahaya merokok dan zat-zat yang menimbulkan gangguan kesehatan.
2.      Mereka mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri dengan mengenali potensi-potensi masyarakat setempat.
3.      Mampu memelihara dan melindungi diri mereka dari berbagai ancaman kesehatan dengan melakukan tindakan pencegahan.
4.      Mampu meningkatkan kesehatan secara dinamis dan terus-menerus melalui berbagai macam kegiatan seperti kelompok kebugaran, olahraga, konsultasi dan sebagainya.

Ada beberapa prinsip dasar untuk mewujudkan masyarakat yang berdaya atau mandiri.

1.      Penyadaran
       Untuk dapat maju atau melakukan sesuatu, orang harus dibangunkan dari tidurnya. Demikian masyarakat juga harus dibangunkan dari “tidur” keterbelakangannya, dari kehidupannya sehari-hari yang tidak memikirkan Masa depannya.

2.        Pelatihan
Pelatihan disini bukan hanya belajar membaca,menulis dan berhitung, tetapi juga meningkatkan ketrampilan-ketrampilan yang dimiliki.

3.       Pengorganisasian
Agar menjadi kuat dan dapat menentukan nasibnya sendiri, suatu masyarakat tidak cukup hanya disadarkan dan dilatih ketrampilan, tapi juga harus diorganisir.


LANGKAH- LANGKAH PEMBERDAYAAN MASYARAKAT.
-          Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat
Kegiatan ini untuk menciptakan komunikasi serta dialog dengan masyarakat. Sosialisasi PM membantu untuk meningkatkan pengertian masyarakat dan pihak terkait tentang program. Proses sosialisasi sangat menetukan ketertarikan masyarakat untuk berperan dan terlibat dalam program.
-           Proses Pemberdyaaan Masyarakat
Maksud pemberdayaan masyarakat adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya (tujuan umum

-           Pemandirian Masyarakat
Berpegang pada priunsip pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk memandirikan masyarakat dan meningkatkan taraf hidupnya, maka arah pendampingan kelompok adalah mempersiapkan masyarakat agar benar-benar mampu mengelola sendiri kegiatnnya.

Agar dicapai suatu hasil optimal, maka faktor-faktor tersebut harus bekerjasama secara harmonis. Hal ini berarti, bahwa untuk masukan (sasaran pendidikan) tertentu, harus menggunakan cara tertentu pula, materi juga harus disesuaikan dengan sasaran, demikian juga alat bantu pendidikan disesuaikan. Untuk sasaran kelompok, metodenya harus berbeda dengan sasaran massa dan sasaran individual. Untuk sasaran massa pun harus berbeda dengan sasaran individual dan sebagainya, Terimakasih.


                                                         ADVOKASI

Mahasiswa adalah seorang yang menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi atau setingkatnya, yang tentunya berbeda dengan siswa. Mahasiswa memiliki tanggung jawab yang lebih besar, tanggung jawab, identitas, dan kepedulian yang lebih kongkret daripada semasa siswa. Hal ini tercermin dalam Tri dharma perguruan tinggi yang menyatakan mahasiswa itu harus melakukan pendidikan, penelitian, dan yang terakhir pengabdian masyarakat. Mahasiswa dalam kehidupan kampus sudah tentu setiap hari berkutat dengan proses pendidikan dan beberapa sudah biasa dengan penelitian, setidaknya ketika skripsi seorang mahasiswa harus melakukan penelitian. Akan tetapi untuk point yang ketiga jarang mahasiswa yang sadar akan tanggung jawabnya terhadap pengabdian masyarakat. Berbicara tentang pengabdian masyarakat sebenarnya banyak yang dapat dilakukan seperti bakti sosial, membantu sesama teman yang butuh bantuan, membela kepentingan masyarakat umum atau masih banyak lagi yang lainnya Kegiatan-kegiatan seperti ini di dalam kehidupan kampus biasa disebut ADVOKASI.
Kata advokasi adalah kata kerja dari kata benda advocaat (belanda) yang berarti penasehat hukum, pembela perkara atau pengacara. Advokasi sendiri bisa diartikan sebagai proses pembelaan suatu perkara dalam koridor hukum yang berlaku. Kebanyakan mahasiswa, bila mendengar kata ‘advokasi’ seringnya akan berpikiran kearah tindakan revolusi. Namun bagi seorang aktivis kampus (dalam hal ini, pengadvokasian yang dilakukan oleh sebuah departemen dalam BEM/organisasi kemahasiswaan di kampus) advokasi adalah proses mempengaruhi dan mengubah sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh birokrat tanpa pertimbangan keadilan atas hak manusia lainnya. Sebuah organisasi kemahasiswaan, sebut saja BEM, didirikan dan sampai saat ini tidak (atau belum) dibubarkan karena diharapkan oleh sebagian mahasiswa lainnya dapat menjalankan fungsi Advokasi secara optimal.
Advokasi adalah aksi yang strategis dan terpadu, oleh perorangan atau kelompok masyarakat untuk memasukkan suatu masalah ke dalam agenda kebijakan, dan mengontrol para pengambil keputusan untuk mengupayakan solusi bagi masalah tersebut sekaligus membangun basis dukungan bagi penegakan dan penerapan kebijakan publik yang di buat untuk mengatasi masalah tersebut.
Ada 9 pertanyaan kunci yang perlu diperhatikan dan yang harus dibedakan adalah antara taktik dan strategi. Taktik adalah suatu tindakan khusus misalnya pengedaran petisi, penulisan surat, penggelaran protes. Strategi adalah sesuatu yang lebih besar suatu peta keseluruhan yang memberikan arah pada penggunaan alat-alat.
Sembilan kata kunci itu adalah :
1. Apa yang anda inginkan atau tujuan-tujuan strategis.
2. Siapa yang dapat melakukannya
3. Apa yang ingin mereka dengar.
4. Dari siapa mereka perlu mendengar pesan itu.
5. Bagaimana membuat khalayak mendengarkan pesan itu.
6. Apa yang kita miliki.
7. Apa yang perlu kita kembangkan.
8. Bagaimana memulai.
9. Lakukan evaluasi.
Gambaran jelasnya tahapan tersebut yang biasanya dilakukan dalam melakukan advokasi yaitu :
1. Mengumpulkan dan merumuskan isu
2. Menyiapkan bahan sebagai alat advokasi
3. Mengidentifikasi aktor-aktor kunci
4. Memetakan potensi dan ancaman
5. Melaksanakan agenda advokasi
6. Melakukan monitoring dan evaluasi fungsinya untuk menyusun ulang rencana yang telah dilaksanakan.

                  Advokasi yang dilakukan secara terpadu,  tidak hanya membutuhkan sumberdaya dana, tapi juga sumberdaya manusia.  Karena dalam advokasi kebijakan yang terpadu, ada serangkaian proses yang bagaimanapun harus dilalui.  Baik itu menyangkut proses pematangan konsep dan perumusan substansi, proses penggalangan dukungan publik dan proses lobby.  Sebuah kerangka kerja advokasi yang cukup berat jika hanya dilakukan oleh sebuah organisasi/lembaga.  Dalam proses advokasi, tidak jarang berbagai kerja tersebut diselesaikan dengan berjaringan. Berangkat dari kepercayaan bahwa setiap lembaga pasti punya kapasitas dan kekuatan tertentu,
Tujuan advokasi adalah menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan, mendukung pelaksanaan peraturan kesejahteraan social, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab para petugas birokrasi dalam melaksanakan pengabdian pada masyarakat. Adapun tujuan utama advokasi adalah realisasi hak-hak masyarakat.

Sabtu, 16 September 2017

kesmas

Analisis Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya Keselamatan
dan Kesehatan Kerja dengan Fungsi Paru Pekerja
Tambang Batu Bara
Analysis of Work Shift, Working Period, and Occupational Health and
Safety Culture with Lung Function of Coal Mine Workers
Qomariyatus Sholihah*, Aprizal Satria Hanafi**, Wanti***, Ahmad Alim Bachri****, Sutarto Hadi*****
*Departemen K3 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia,
**Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia,
***Politeknik Kesehatan Kupang, Indonesia, ****Fakultas Ekonomi, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia,
*****Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia
25
International Labor Organization (ILO) tahun 2013,
2,34 juta orang meninggal setiap tahunnya karena
penyakit akibat kerja. Di Jepang, pada tahun 2011, salah
satu penyakit akibat kerja yang paling besar angkanya
adalah pneumokoniasis, sama halnya dengan di Inggris.5
Angka sakit di Indonesia mencapai 70% dari pekerja
yang terpapar debu tinggi. Sebagian besar penyakit paru
akibat kerja memiliki akibat yang serius, yaitu terjadinya
gangguan fungsi paru dengan gejala utama yaitu sesak
napas.6
Kejadian penyakit akibat kerja tersebut diperkirakan
akibat dari faktor ekstrinsik seperti faktor lingkungan
dan faktor perusahaan serta faktor intrinstik seperti perilaku, sikap, dan kedisiplinan.Penerapan implementasi
program K3 akan memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap peningkatan produktivitas kerja.8
Salah satu faktor yang menyebabkan gangguan fungsi
paru adalah sif kerja. Pekerja tambang batu bara memiliki waktu sif siang (pagi, siang, sore) dan sif malam.
Permasalahan lebih banyak terjadi pada pekerja sif
malam karena irama faal tubuh manusia yang tidak dapat menyesuaikan kerja malam dan tidur.Kerja sif
malam merupakan sistem yang berlawanan dengan irama
sirkadian. Kelainan pola tidur sebagai salah satu bentuk
gangguan irama sirkadian yang dialami pekerja sif memiliki konsekuensi patologis berupa peningkatan kadar
sitokin proinflamasi dalam darah karena penurunan sistem kekebalan dan antioksidan dalam tubuh.10
Penyakit pernapasan tidak hanya disebabkan oleh
debu saja, melainkan dari karakteristik individu seperti
masa kerja yang terkait dengan tingkat pajanan. Masa
kerja penting diketahui untuk melihat lamanya seseorang telah terpajan dengan debu lingkungan. Selain itu,
kebiasaan merokok juga merupakan salah satu kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan pekerja. Seorang perokok memiliki risiko kematian 20 kali
lebih besar akibat kanker paru dibandingkan yang
bukan perokok.11 Seseorang yang semakin lama bekerja pada tempat yang mengandung debu, akan semakin
tinggi risiko untuk terkena gangguan kesehatan, terutama gangguan saluran pernapasan.12 Penelitian yang dilakukan pada pekerja tambang batu bara di Kalimantan
Timur tahun 2012 diperoleh sebanyak 45,1% yang
mengalami gangguan fungsi paru obstruktif dengan
masa kerja > 5 tahun dan 16,7% yang masa kerjanya <
5 tahun.13 Menurut Kaligis,implementasi program K3
akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
peningkatan produktivitas kerja. Impelementasi K3
mampu mengurangi angka kecelakaan kerja sehingga
pekerja dapat bekerja dengan lebih baik dan mengurangi angka absensi kerja akibat kecelakaan kerja atau
penyakit akibat kerja.
Berdasarkan data yang diperoleh dari audit internal
PT X tahun 2014, kadar debu di bagian produksi mencapai 4,8 mg/m3. Sedangkan menurut National Institute
of Occupational Safety and Health (NIOSH) tahun 2011,
nilai ambang batas untuk debu batu bara adalah 2
mg/m3. Debu tersebut akan meningkatkan risiko gangguan paru pada pekerja tambang. Semakin lama seorang
pekerja terpajan, maka risiko gangguan paru akan semakin meningkat jika tidak disertai dengan penerapan
K3 yang baik.14
Berdasarkan hasil data klinik di PT X didapatkan
penyakit pekerja adalah sesak napas, common cold, dan
flu. Penelitian tentang kesehatan pekerja di tambang batu
bara PT X perlu dilakukan agar dapat diketahui penyebab keluhan pekerja dan diharapkan dapat meminimalkan penyakit akibat kerja dan tujuan akhirnya dapat
meningkatkan produktivitas pekerja. Tujuan umum
penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sif kerja, masa kerja, dan budaya K3 dengan fungsi paru pekerja tambang batu bara di PT X.
Metode
Desain studi yang digunakan pada penelitian ini
adalah kasus kontrol untuk mengamati variabel dependen, yaitu gangguan fungsi paru dan variabel independen, yaitu sif kerja, masa kerja, dan budaya K3. Pada
penelitian ini digunakan perbandingan kasus dan kontrol
adalah 1 : 1 sehingga jumlah kontrol sebanyak 178 orang.
Maka, jumlah sampel yang dibutuhkan pada penelitian
ini adalah 356 orang. Sampel diambil menggunakan
teknik simple random sampling. Sampel kelompok kasus
adalah seluruh pekerja tambang batu bara PT X bagian
produksi yang berjumlah 178 orang, sedangkan sampel
kelompok kontrol adalah karyawan bagian manajemen
kantor berjumlah 178 orang.
Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar isian
(data identitas dan kuesioner) dengan disertai persetujuan menjadi subjek penelitian, alat uji fungsi paru
(Spirometri) merek BLT-08 Spiro Pro Meter® dan
mouthpiece, timbangan berat badan untuk mengukur berat badan, dan meteran untuk mengukur tinggi badan.
Pengukuran menggunakan instrumen didampingi oleh
petugas medis dari pihak perusahaan. Kuesioner
dibagikan kepada responden untuk mengukur budaya K3
responden, kemudian fungsi paru responden diukur dengan menggunakan spirometri dan mouthpiece. Hasil
dikatakan normal jika besar volume udara yang dikeluarkan dalam satu detik pertama ≥ 80% dari kapasitas
fungsi paru dan dikatakan tidak normal jika < 80% dari
kapasitas fungsi paru. Sedangkan lembar isian digunakan
untuk mengetahui sif kerja dan masa kerja. Data dianalisis menggunakan uji kai kuadrat dengan alpha 95%, kemudian dilanjutkan dengan analisis regresi logistik untuk
analisis multivariat dengan variabel sif kerja, masa kerja,
dan budaya K3. Penelitian ini dilakukan pada bulanOktober – November 2014 di PT X.Sholihah, Hanafi, Wanti, Bachri, Hadi, Analisis Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya K3 dengan Fungsi ParuKesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10, No. 1, Agustus 201526fungsi paru pekerja tambang batu bara sif siang ada yangmengalami penurunan kapasitas fungsi paru di bawah nilai normal, yaitu FEV1 80%. Hal ini sesuai denganpenelitian Hendryx and Melissa,15 membuktikan bahwarisiko tinggi pekerja tambang batu bara terhadap terjadinya inflamasi yang menyebabkan risiko gangguanfungsi paru. Dibuktikan oleh penelitian Sari Mumuya,16pada tahun 2006 terhadap 299 laki-laki pekerja tambangbatu bara sif siang di Tanzania dengan nilai p = 0,04 (nilai p < 0,05) menunjukkan bahwa risiko bekerja di daerah pertambangan batu bara dapat menurunkan nilaiFEV1% 80.Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat nilai kapasitas fungsi paru pekerja tambang batu bara sif malammengalami penurunan dibandingkan sif siang. Penurunankapasitas fungsi paru lebih banyak ditemukan padapekerja tambang batu bara sif malam. Sif malam menunjukkan penurunan FEV1%, Vmax50, Vmax25 lebih besar dibandingkan dengan sif pagi dan sif siang. MenurutZheng,10 sif malam merupakan sistem yang berlawanandengan ritme sirkadian. Kelainan pola tidur sebagai salahsatu bentuk gangguan ritme sirkadian yang dialamipekerja sif memiliki konsekuensi patologis berupa peningkatan kadar sitokin proinflamasi dalam darah karena penurunan sistem kekebalan dan antioksidan dalamtubuh. Hal ini didukung oleh penelitian Sholihah,17HasilHasil distribusi sif kerja, masa kerja, budaya K3 danfungsi paru pada pekerja tambang di PT X sinergi padaTabel 1. Tabel 1 memaparkan hasil berdasarkan analisisunivariat untuk mendapatkan distribusi fekuensi darimasing-masing variabel independen (sif kerja, masa kerja, dan budaya K3) dan variabel dependen (gangguanfungsi paru). Hasil penelitian menunjukkan kasus fungsiparu tidak normal sebesar 57,9% meliputi obstruktif, restruktif maupun keduanya.Tabel 2 menunjukkan hubungan antarvariabel independen dengan variabel dependen. Seluruh variabelmeliputi sif dan masa kerja, serta budaya 3 memilikihubungan yang bermakna secara statistik dengan nilai p< 0,05. Variabel bebas yang berhubungan dengan variabel terikat (variabel sif kerja, masa kerja, dan budayaK3) bersama dimasukkan dalam perhitungan uji regresilogistik metode Enter. Sif kerja merupakan variabel bebas yang berpengaruh paling dominan dengan fungsiparu (Tabel 3).PembahasanHasil penelitian dengan menggunakan uji kai kuadratmenunjukkan terdapat hubungan antara sif kerja danfungsi paru pekerja tambang batu bara dikarenakan nilaip < 0,05. Dalam penelitian ini, terdapat bahwa kapasitasTabel 1. Distribusi Frekuensi Kasus dan Kontrol Berdasarkan Variabel IndependenVariabel Kategori Kasus Kontrol TotalSif kerja Siang 98 (55,1%) 141 (79,2%) 239 (67,1%)Malam 80 (44,9%) 37 (20,8%) 117 (32,9%)Masa kerja <5 Tahun 118 (66,3%) 43 (24,2%) 161 (45,2%)≥5 Tahun 60 (33,7%) 135 (75,8%) 195 (54,8%)Budaya K3 Positif 108 (60,1%) 172 (96,6%) 280 (78,7%)Negatif 70 (39,9%) 6 (3,4%) 76 (21,3%)Fungsi paru Normal 75 (42,1%) 163 (91,6%) 238 (66,9%)Tidak normal (obstruktif, 103 (57,9%) 15 (8,4%) 118 (33,1%)restruktif, campuran)Tabel 2. Analisis Bivariat Variabel Independen dengan Fungsi ParuVariabel Kategori Kasus Kontrol Total OR 95% CI Nilai pSif kerja Siang 98 (55,1%) 141 (79,2%) 239 (67,1%) 6,326 0,044Malam 80 (44,9%) 37 (20,8%) 117 (32,9%) 1,829-21,001Masa kerja < 5 Tahun 118 (66,3%) 43 (24,2%) 161 (45,2%) 4,82 0,028≥ 5 Tahun 60 (33,7%) 135 (75,8%) 195 (54,8%) 1,743-13,239Budaya K3 Positif 108 (60,1%) 172 (96,6%) 280 (78,7%) 5,532 0,013Negatif 70 (39,9%) 6 (3,4%) 76 (21,3%)Tabel 3. Hasil Uji Multivariat Fungsi Paru95% CI for EXP (B)Variabel Bebas B Wald Sig Exp (B)Lower UpperSif kerja 1,360 7,074 0,01 3,934 1,453 2,864Masa kerja 0,893 2,899 0,076 2,454 0,786 7,567Budaya K3 1,006 6,655 0,081 2,675 0,965 6,65427membuktikan bahwa dinding alveoli tikus wistar yangdikondisikan sif malam mengalami penebalan lebih signifikan dibandingkan sif siang. Penurunan kapasitasfungsi paru dapat disebabkan kondisi fisik individupekerja yang meliputi mekanisme pertahanan paru,anatomi dan fisiologi saluran pernapasan serta faktorimunologis.18 Dibuktikan oleh penelitian Siyoum,19 pada tahun 2014 di Etiopia dengan nilai p = 0,001 yangmenjelaskan bahwa gejala gangguan fungsi paru terjadilebih banyak pada pekerja sif malam dibandingkan dengan sif lainnya.Hasil penelitian dengan menggunakan uji kai kuadratmenunjukkan bahwa terdapat hubungan antara masakerja dan fungsi paru pekerja tambang batu bara, dikarenakan nilai p > 0,05. Penelitian ini tidak sejalan denganpenelitian Puspita dkk,20 mengenai pengaruh paparandebu batu bara terhadap gangguan faal paru. Hasil analisis faktor risikonya menunjukkan bahwa masa kerja tidakmemiliki hubungan terhadap kejadian gangguan faalparu. Dalam penelitian Baharuddin dkk,21 masa kerja 2- 7 tahun dan 8 - 13 tahun juga tidak memiliki hubungandengan gangguan fungsi paru, baru pada masa kerja 14 -20 tahun mulai terdapat hubungan dengan gangguanfungsi paru. Beberapa penelitian melaporkan bahwa dinegara yang telah memiliki nilai ambang batas debu,pneumokoniosis pada penambang batu bara biasanyaterjadi pada individu yang telah bekerja selama > 10tahun atau paling sedikit 5 - 10 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat bukti yang signifikan antara masakerja dengan fungsi paru. Jika masa kerja berhubungan,diperlukan waktu paparan yang cukup lama untuk dapatmenimbulkan kelainan pada faal paru. Jumlah total suatuzat yang diabsorsi di paru-paru bukan hanya tergantungpada lamanya seseorang terpapar dengan debu saja, namun perlu diperhitungkan sifat-sifat kimia dan fisik daridebu itu sendiri yang terhirup oleh pekerja.22Penurunan fungsi paru tidak hanya disebabkan olehfaktor pekerjaan maupun lingkungan kerja, tetapi jugaterdapat sejumlah faktor nonpekerjaan yang dapat menjadi faktor yang memengaruhi maupun menjadi variabelpengganggu. Hal-hal yang dapat memengaruhi sepertiusia, jenis kelamin, kelompok etnis, tinggi badan, kebiasaan merokok, suhu lingkungan, penggunaan alat pelindung diri, metode pengolahan serta jumlah jam kerja/jamgiliran kerja (sif kerja).23Faktor lain dalam penelitian ini yang menyebabkanmasa kerja menjadi tidak berhubungan dengan fungsiparu adalah kadar debu. Pada penelitian ini, kadar debubatu bara merupakan faktor pengganggu yang tidak dapat dikendalikan karena setiap hari semua pekerja tambang batu bara di bagian produksi berkontak langsungdengan debu batu bara.Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubunganantara budaya K3 dan fungsi paru pekerja tambang batubara dikarenakan nilai p > 0,05. Penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Dumadkk,1 yang mendesain modul menuju selamat sehat sebagai metode dan media penyuluhan K3 yang efektifmeningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku K3 (budaya K3) serta tenaga kerja inovatif dalam pengendaliangangguan kesehatan. Hasil penelitian menyatakan penyuluhan K3 dalam penerapannya selama satu tahun efektifmeningkatkan pengetahuan dan sikap budaya K3, namun belum efektif meningkatkan kesehatan pekerja.Berdasarkan hasil observasi di PT X, Rantau, KalimantanSelatan, nilai ambang batas debu tidak diketahui.Manajemen perusahaan tambang batu bara hanya menyatakan secara lisan bahwa nilai ambang batas debu dalamkeadaan normal.24 Kadar debu lebih dari 350 mg/m3udara/hari (OR = 2,8; 95% CI = 1,8 - 9,9) merupakansalah satu faktor intrinsik yang terbukti berhubungandengan penurunan kapasitas paru.6Berdasarkan kepustakaan, debu yang berukuran antara 5 - 10 mikron bila terhisap akan tertahan dan tertimbun pada saluran napas bagian atas, yang berukuranantara 3 - 5 mikron tertahan atau tertimbun pada salurannapas tengah. Partikel debu dengan ukuran 1 - 3 mikrondisebut debu respirabel merupakan yang paling berbahaya karena tertahan atau tertimbun mulai dari bronkiolus terminalis sampai alveoli.25KesimpulanHasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan sifkerja, masa kerja, dan budaya K3 dengan fungsi parupekerja tambang batu bara PT X di Kalimantan Selatan.Daftar Pustaka1. Duma K, Husodo AH, Soebijanto, Maurits LS. Modul menuju selamatsehat: inovasi penyuluhan kesehatan dan kesehatan kerja dalampengendalian kelelahan kerja. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.2011; 14 (4): 213-23.2. Rikmiarif DE, Pawenang ET, Cahyati WH. Hubungan pemakaian alatpelindung pernafasan dengan tingkat kapasistas vital paru. UnnesJournal of Public Health. 2012; 1 (1): 12-7.3. Hermanus MA. Occupational health and safety in mining–status, Newdevelopments, and concerns. The Journal of the Southern AfricanInstitute of Mining and Metalurgy. 2007; 107: 531-8.4. Susanto AD. Pnemokoniosis: artikel pengembangan pendidikan keprofesian berkelanjutan. Journal of Indonesian Medical Association. 2011;61: 503-10.5. ILO [homepage in internet]. The prevention of occupational diseases.World day for safety and health at work. 2013 [cited 2014 Dec 5].Available from: http://www.ilo.org/safework/events/meetings/WCMS_204594/lang—en/index.htm6. Meita AC. Hubungan paparan debu dengan kapasitas vital paru padapekerja penyapu Pasar Johar Kota Semarang. Jurnal KesehatanMasyarakat. 2012; 1 (2): 654-62.7. Susilowati IH, Syaaf RZ, Satrya C, Hendra, Baiduri. Pekerjaan, nonSholihah, Hanafi, Wanti, Bachri, Hadi, Analisis Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya K3 dengan Fungsi ParuKesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10, No. 1, Agustus 201528Occupational Medicine. 2007; 36 (2): 299-306.17. Sholihah Q. Melatonin lowers levels of SOD and number of inflammatory cells BAL wistar strain mice wearing mask PPE, sub acute exposedby coal dust day and night. Journal Applied Environment BiologicalScience. 2012; 2 (12): 652-7.18. Raju AE, Hansi K, Sayaad R. A Study on pulmonary function tests incoal mine workers in Khammam District India. International JournalPhysioter Respiratory Research. 2014; 2 (3): 502-6.19. Siyoum K, Alemu K, Kifle M. Respiratory symptoms and associated factors among cement workers and civil servants in North Shoa, OromiaRegional State, North West Ethiopia: Comarative Cross Sectional Study.Journal Health Affairs. 2014; 2: 74-8.20. Puspita CG. Paparan debu batubara terhadap gangguan faal paru padapekerja kontrak bagian coal handling PT. PJB Unit Pembangkit Paiton[skripsi]. Jember: Bagian Kesehatan Lingkungan dan KesehatanKeselamatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember;2011.21. Baharudin S, Roestam AW, Yunus F, Ikhsan M, Kekalih A. Analisis hasilspirometri karyawan PT. X yang terpapar debu di area penambangandan pemrosesan nikel. Jakarta: Departemen Pilmonologi dan Ilmu kedokteran Respirasi Fakulta Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.22. Komendong DJWM, Ratu JAM, Kawatu PAT. Hubungan antara lama paparan dengan kapasitas paru tenaga kerja industri mebel di CV. SinarMandiri Kota Bitung. Jurnal Kesmas Universitas Sam Ratulangi. 2012;1 (1): 5-10.23. Kurniawidjaja LM. Program perlindungan kesehatan respirasi di tempatkerja manajemen risiko penyakit paru akibat kerja. Jurnal RespirologiIndonesia. 2010; 30 (4); 217-29.24. PT. Hasnur Riung Sinerga. Profil dan gambaran men power di PT.Hasnur Riung Sinergi Site BRE. Rantau, Kalimantan Selatan: PT HasnurRiung Sinergi; 2014.25. Sholihah Q, Ratna S, Laily K. Pajanan debu batubara dan gangguan pernafasan pada pekerja lapangan tambang batubara. Jurnal KesehatanLingkungan. 2008; 4 (2): 291-311.pekerjaan, dan psikologi sebagai penyebab kelelahan operator alat Beratdi industri pertambangan batubara. Kesmas: Jurnal KesehatanMasyarakat Nasional. 2013; 8 (2): 91-6.8. Kaligis RSV, Sompie BF, Tjakra J, Walangitan DRO. Pengaruh implementasi program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap produktivitas kerja. Jurnal Sipil Statik. 2013; 1 (3) : 219-25.9. Siyoum K, Alemu K, Kifle M. Respiratory symptoms and associated factors among cement workers and civil servants In North Shoa, Oromiaregional state, North West Ethiopia: comarative cross sectional study.Journal Health Affairs. 2014; 2 (4): 74 - 8.10. Zheng H, Patel M, Hryniewicz K, Katz SD. Association of extended shiftwork, vascular fuction and inflammatory markers in internal medicineresident: a randomized control trial. JAMA. 2006; 296 (9): 1049-54.11. Kandung RPB. Hubungan antara karakteristik pekerja dan pemakaianalat pelindung pernapasan (masker) dengan kapasitas fungsi paru padapekerja wanita bagian pengempelasan di Industri Mebel “X” Wonogiri.Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2013; 2 (1).12. Putra DP, Rahmatullah P, Novitasari A. Hubungan usia, lama kerja, dankebiasaan merokok dengan fungsi paru pada juru parkir di JalanPandanaran Semarang. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah. 2012; 1 (3):7-12.13. Cahyana A. Faktor yang berhubungan dengan kejadian gangguan fungsiparu pada pekerja tambang batubara PT. Indominco MandiriKalimantan Timur Tahun 2012 [research article]. Makassar: BagianKesehatan dan Keselamatan Kerja FKM Universitas Hasanuddin, 2012.14. National Institute for Occupational Safety and Health . Coal mine dustexposures and associated health outcomes. NIOSH [online]; 2011 [cited 2015 Jan 4]. Available from: www.cdc.gov/niosh/docs/2011-172/pdfs/2011-172.pdf.15. Hendryx M, Melissa M. Relations between health indicators and residential proximity to coal mining in West Virginia. American Journal ofPublic Health. 2008; 98 (4): 668-71.16. Mumuya SHD, Bratveit M, Mashalla YJ, Moen BE. Airflow limitationamong workers in a labour-intensive coal mine in Tanzania.


ISKMKMI
Sebagai Mahasiswa kesehatan masyarakat pastinya kita sudah mengetahui apa itu organisasi ISKMKMI ( Ikatan senat mahasiswa kesehatan masyarakat ),ISKMKMI yakni suatu perkumpulan mahasiswa prodi kesehatan masyarakat dalam bentuk senat atau tepatnya ialah Organisasi ,ISMKMI adalah sarana untuk bertukar pandang guna memecahkan persoalan – persoalan yang timbul di dalam masyarakat mauapun dunia ilmiah , khususnya dalam pembangunan kesehatan Nasional yang semakin kompleks di wilayah NKRI.
Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) merupakan organisasi yang dibentuk pada tanggal 24 Desember 1991, didirikan oleh FKM Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Sumatra Utara, Universitas Airlangga, Universitas Hassanudin,saat ini ISMKMI beranggotakan 56 institusi yang tersebar dari Aceh hingga ke Papua








Logo ISMKMI sendiri memiliki filosofinya. Segitiga sama sisi ialah segitiga epidemiologi, sisi warna ungu mengartikan pengabdian, warna dasar putih bermakna bersih dan suci. Lalu dapat kita lihat terdapat 3 buah bendera Indonesia yang mengelilingi Indonesia, artinya melambangkan anggota ISMKMI terdiri dari institusi Kesehatan Masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Lalu di dalam ISMKMI ada tulisan yang berwarna-warni, bukan tanpa sebab tetapi dibalik warna-warni tersebut ada maknanya. Warna-warna tersebut melambangkan institusi-institusi pendiri dari Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia. Warna merah pada huruf I pertama yaitu almamater institusi pendiri dari Universitas Hasanudin, huruf S berwarna biru gelap yaitu almamater dari Universitas Diponegoro, huruf K berwarna biru gelap juga warna almamater dari Universitas Airlangga, untuk warna hijau pada huruf M dan I terakhir ialah almamater dari Universitas Sumatera Utara, sedangkan untuk warna kuning terakhir bukan dari almamater Universitas Jenderal Soedirman ya, tetapi warna dari almamater Universitas Indonesia. ISMKMI sendiri didirikan di Ujung Pandang, Makassar pada 24 Desember 1991 oleh 5 Institusi yang mewarnai nama dari logo ISMKMI..
Tujuan dibentuknya ISMKMI adalah untuk menjalin  persatuan dan kesatuan lembaga eksekutif mahasiswa kesehatan masyarakat dalam rangka pembinaan mahasiswa kesehatan masyarakat sebagai insan yang menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam Ilmu KesehatanMasyarakat. Untuk mencapai tujuan organisasi, maka diadakan musyawarah nasional yang diadakan setiap satu periode kepengurusan (dua tahun) yang pada akhirnya dilakukan penyusunan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga  (AD & ART), garis besar haluan organisasi (GBHO), pemilikan sekertaris jenderal, dan pemilihan perangkat kepengurusan nasional pada rapat kerja nasional (RAKERNAS). Dan ISMKMI murni pergerakan mahasiswa dari, oleh, untuk mahasiswa dan masyarakat secara luas . Fungsi Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis (IOMS) kesehatan masyarakat ini tidak akan lepas dari fungsi kelembagaan institusinya masing – masing terutama dekanat masing – masing. 
Dalam organisasinya ISMKMI terdiri atas banyak struktur keorganisasian mulai dari Sekretaris Jenderal (Sekjen), Pengurus organisasi seperti wakil sekjen, staff biro ahli, staff biro admin dan staff biro keuangan. Juga terdapat Dewan Pengawas Nasional (DPN). Organisasi ISMKMI saat ini memiliki 3 divisi yaitu Devisi Pengembangan Sumber Daya Masyarakat, Devisi Pengabdian Masyarakat, dan Devisi Advokasi

Pola Kegiatan ISMKMI merupakan acuan pelaksanaan operasional kegiatan ISMKMIsecara periodik dengan berpedoman kepada pola dasar program kerja. Pola kegiatanISMKMI terdiri dari atas :

Pengembangan SDM (PSDM) dapat melalui pengembangan moral, spiritual dan intelektual serta dalam bidang akademik dan non-akadmeik. Mengadakan kegiatan-kegiatan dalam rangka peningkatan daya nalar atau daya serap dan pola pikir seperti paradigma untuk merespon kondisiatau kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Pengembangan Kepemimipinan dapat ditempuh melalui kegaiatan seperti mengadakan kegiatan-kegiatan dalam rangka meningkatkan kemampuan kepemimpinan seperi Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK).

Kegiatan dalam ISMKMI sangat banyak sekali, mulai dari kegiatan Musyawarah Nasional (Munas), pelatihan atau training dalam bidang kesehatan masyarakat, mensosialisasikan gerakaan-gerakan untuk mendukung kesadaran akan pentingnya kesehatan serta pola hidup sehat.
Di ISMKMI kita juga dapat memperluas jaringan atau koneksi teman-teman seluruh mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia. Selain itu juga kita dapat mengembangkan softskills seperti layaknya di dalam organisasi pada umumnya, hanya saja yang membedakannya ialah dalam tingkatannya, di ISMKMI tingkatannya ada yang Wilayah adapula yang Nasional, untuk Wilayah 1 berada dibagian Sumatra,wilayah 2 di daerah  Jakarta,Jawa Barat,dan Kalimantan.,wilayah 3 berada di Jawa Timur,Jawa Tengah,D I Yogyakarta,Bali,NTT,NTB, serta wilayah 4 terdiri dari Sulawesi dan Papua. Universitas Jenderal Soedirman termasuk ke Wilayah III yang berarti bergabung dengan Institusi-Institusi lain yang termasuk ke dalam Wilayah III yang diantaranya ialah daerah Provinsi Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, se-pulau Bali, NTT, dan NTB. Untuk cakupan Nasional sendiri yaitu meliputi seluruh Mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang ada di Indoneisa. Sebagai Mahasiswa, berorganisasi sangatlah penting. Apalagi jika bisa menjadi perwakilan Universitas Jenderal Soedirman di Forum Diskusi Nasional di Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia

Cara ISMKMI menjalankan roda organisasi sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dan garis besar haluan organisasi, yaitu dengan musyawarah dan mufakat dan yang akanmenghasilkan keputusan tertinggi dengan  kesepakatan semua pihak melalui musyawarah nasional dan rapat kerja nasional atau hak perogratif sekjen terpilih untuk mengkordinir gerakan yang sudah ditetapkan sebelumnya.Cukup sekian  penjelasan ISMKMI dari saya ,lebih lengkapnya lagi  bisa bertanya-tanya kepada Divisi Kelompok Kerja di Himpunan Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Terimakasih.